Sesi privat dengan reservasi • Ruang Mindfulness & Wellness
Beranda Tentang Kami Toko Jurnal & Artikel Acara Kontak Keranjang
Bahasa:
ID / EN
Beranda • Jurnal & Artikel • Toxic Positivity Spiritual: Ketika “Go...

Toxic Positivity Spiritual: Ketika “Good Vibes Only” Justru Membuat Kita Lari dari Diri Sendiri

Toxic Positivity Spiritual: Ketika “Good Vibes Only” Justru Membuat Kita Lari dari Diri Sendiri
Spiritualitas seharusnya membuat kita lebih jujur, bukan lebih pandai menutupi luka. Kenali toxic positivity spiritual dan bedanya dengan pertumbuhan batin yang sungguh-sungguh.

Spiritualitas sering jadi tempat kita berpaling saat hidup terasa berat. Kita bermeditasi saat kepala penuh, berdoa saat tidak tahu lagi harus berbuat apa, menarik kartu tarot saat butuh sudut pandang lain, berlatih bersyukur saat hidup terasa sesak, atau meyakinkan diri bahwa mungkin semua ini terjadi karena ada alasannya.

Ada rasa tenang yang dalam ketika kita percaya bahwa pengalaman sulit pun bisa punya makna. Praktik spiritual memberi kita bahasa untuk hal-hal yang sulit dijelaskan, dan kadang membantu kita melewati ketidakpastian dengan sedikit lebih percaya.

Tapi ada sisi lain dari spiritualitas modern yang jarang kita bicarakan.

Di antara manifestasi, berpikir positif, latihan bersyukur, pembersihan energi, dan upaya menjadi “versi tertinggi diri kita”, spiritualitas bisa diam-diam menciptakan satu tuntutan baru: tuntutan bahwa kita harus selalu baik-baik saja.

Kita mulai percaya bahwa menjadi spiritual berarti selalu damai. Bahwa sembuh berarti tidak lagi terpicu. Bahwa rasa syukur harus menggantikan rasa kecewa. Bahwa marah itu “vibrasi rendah”. Bahwa rasa takut akan menarik lebih banyak ketakutan. Dan kalau hidup kita tidak juga berubah, mungkin kita belum cukup sembuh, belum bermanifestasi dengan benar, atau belum menjaga energi yang tepat.

Perjalanan yang awalnya untuk memahami diri pelan-pelan bisa berubah jadi cara baru untuk menghakimi diri sendiri.

Di sinilah toxic positivity spiritual bermula.

Toxic Positivity Spiritual: Saat Sikap Positif Tidak Lagi Membantu

Toxic positivity bukan berarti sikap positif itu buruk. Tidak ada yang salah dengan berharap keadaan membaik, berlatih bersyukur, mencari makna setelah masa sulit, atau memilih fokus pada hal baik yang masih ada. Semua itu bisa sangat menguatkan.

Masalahnya muncul ketika sikap positif menjadi satu-satunya respons emosi yang boleh ada.

Bayangkan seseorang yang baru putus dan sedang terluka. Dia marah, bingung, berduka, dan mungkin masih berharap hubungannya kembali. Alih-alih membiarkan semua emosi itu ada, dia langsung berkata pada dirinya, “Semua terjadi karena ada alasannya. Semesta sedang menyingkirkan yang bukan untukku.”

Pikiran itu mungkin suatu hari akan terasa bermakna. Tapi kalau langsung dipakai untuk membungkam duka, ada hal penting yang terlewat.

Hubungan itu tetap berarti. Kehilangannya tetap sakit. Di bawah penjelasan spiritual tadi, bisa jadi masih ada marah, kecewa, sesal, atau pertanyaan yang belum terjawab.

Hal yang sama bisa terjadi dengan rasa syukur. Seseorang bisa punya hidup yang stabil, teman yang mendukung, rumah yang nyaman, dan banyak hal yang sungguh dia hargai, tapi tetap tidak bahagia di satu sisi hidupnya. Karena sudah diajari untuk “fokus pada apa yang dimiliki”, dia mulai merasa bersalah karena menginginkan sesuatu yang berbeda.

Di titik itu, syukur berhenti menjadi syukur. Ia berubah jadi cara untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa rasa tidak puas kita tidak sah.

Kehidupan emosi yang nyata jarang sekali hitam putih.

Kamu bisa bersyukur atas hidupmu dan tetap tahu ada yang perlu diubah. Kamu bisa paham kenapa sebuah hubungan berakhir dan tetap merindukan orangnya. Kamu bisa memaafkan seseorang dan tetap memutuskan tidak ingin dia kembali ke hidupmu. Kamu bisa percaya bahwa suatu hari semuanya akan masuk akal, dan tetap mengakui bahwa saat ini belum.

Sikap positif menjadi toxic ketika ia menuntut kita menyangkal satu kebenaran demi memegang kebenaran yang lain.

Tekanan Spiritual untuk Selalu “High Vibration”

Spiritualitas modern sering membicarakan energi dengan istilah “high vibration” atau “low vibration”, alias vibrasi tinggi dan vibrasi rendah. Cinta, sukacita, kelimpahan, syukur, dan welas asih biasanya dikaitkan dengan kondisi yang lebih tinggi, sementara marah, iri, takut, sedih, dan dendam diperlakukan sebagai hal yang harus dilepaskan.

Awalnya ini terdengar seperti pengingat yang berguna supaya kita tidak terjebak dalam pola emosi yang merusak. Tapi jadi bermasalah ketika kita mulai menganggap emosi manusia yang wajar sebagai kegagalan spiritual.

Marah, misalnya, memang tidak nyaman. Tapi marah tidak otomatis sia-sia atau merusak. Kadang marah muncul karena ada batas yang dilanggar. Kadang ia memberi tahu bahwa kita sudah terlalu lama menoleransi sesuatu. Kadang ia muncul karena situasinya memang tidak adil.

Iri juga tidak enak untuk diakui, apalagi kalau kita ingin melihat diri sebagai orang yang sudah matang atau sadar secara spiritual. Padahal iri bisa menunjukkan keinginan yang selama ini takut kita akui. Karier orang lain bisa memicu iri karena diam-diam kita menginginkan lebih dari pekerjaan kita sendiri. Hubungan orang lain bisa membuat kita tidak nyaman karena mengingatkan pada sesuatu yang hilang dari hubungan kita.

Bahkan sedih pun membawa pesan.

Sedih sering memberi tahu bahwa ada sesuatu yang berarti.

Ini bukan berarti setiap emosi boleh mengendalikan perilaku kita. Merasa marah tidak membenarkan kita menyakiti orang lain, dan merasa iri bukan berarti kita harus bertindak atas dasar iri. Tapi ada beda antara merasakan sebuah emosi dan dikendalikan olehnya.

Kalau setiap perasaan tidak nyaman kita cap sebagai “energi negatif”, kita mungkin tidak akan pernah penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan perasaan itu.

Dan mungkin spiritualitas seharusnya membuat kita lebih penasaran pada diri sendiri, bukan lebih takut pada diri sendiri.

Saat Manifestasi Berubah Jadi Menyalahkan Diri

Manifestasi bisa terasa memberdayakan ketika mendorong kita lebih jelas soal apa yang kita mau, memperhatikan keyakinan kita, menetapkan niat, dan mengambil langkah yang sejalan dengan hidup yang ingin kita bangun.

Tapi manifestasi juga bisa jadi kejam ketika setiap pengalaman ditafsirkan sebagai sesuatu yang kita tarik sendiri.

Kalau pikiran positif menarik hasil yang positif, logikanya gampang berbalik: kalau ada hal menyakitkan terjadi, apakah itu juga kita yang menariknya?

Apakah hubungan itu gagal karena kita kurang selaras? Apakah kita kesulitan uang karena masih punya scarcity mindset? Apakah seseorang memperlakukan kita dengan buruk karena kita belum menyembuhkan harga diri? Apakah rencana kita berantakan karena kita fokus pada energi yang salah?

Di titik itu, spiritualitas bisa menciptakan ilusi bahwa kita memegang kendali penuh atas hidup.

Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.

Pilihan kita penting. Keyakinan kita memengaruhi cara kita bertindak. Cara kita memahami diri ikut menentukan hubungan yang kita masuki, peluang yang kita lihat, dan keputusan yang kita ambil. Tapi kita juga hidup di dunia yang penuh dengan pilihan orang lain, keadaan di luar kendali, kejadian tak terduga, kondisi sosial, soal waktu, kebetulan, dan ketidakpastian.

Tidak semua yang terjadi pada kita adalah cerminan dari vibrasi kita.

Pembedaan ini penting, karena kalau tidak, spiritualitas bisa mengubah penderitaan menjadi bukti kegagalan pribadi. Alih-alih mendapat welas asih di masa sulit, kita malah menginterogasi diri sendiri: Apa yang sudah kulakukan sampai menarik semua ini?

Kadang memang ada pola yang layak dilihat. Mungkin kita berulang kali masuk ke hubungan yang serupa. Mungkin kita terus mengabaikan batas diri. Mungkin ada keyakinan tertentu yang memengaruhi pilihan kita.

Tapi merenung itu berbeda dengan menyalahkan.

Pertanyaan spiritual yang lebih sehat mungkin bukan, “Kenapa aku memanifestasikan ini?”

Mungkin pertanyaannya, “Setelah ini terjadi, apa yang masih ada dalam kendaliku?”

“Semua Terjadi karena Ada Alasannya” Bisa Datang Terlalu Cepat

Jarang ada ungkapan spiritual yang semenenangkan sekaligus serumit “semua terjadi karena ada alasannya”.

Bagi sebagian orang, keyakinan ini sungguh membantu mereka bertahan di masa sulit. Bertahun-tahun setelah putus, ditolak, gagal dalam karier, atau mengalami perubahan tak terduga, mereka menoleh ke belakang dan sadar bahwa pengalaman itu membelokkan hidup mereka ke arah yang dulu tidak terbayangkan.

Tidak ada yang salah dengan menemukan makna seperti itu.

Tapi makna yang ditemukan belakangan sangat berbeda dengan makna yang dipaksakan saat itu juga.

Ketika seseorang baru saja mengalami kehilangan, pengkhianatan, duka, atau kekecewaan, terburu-buru menjelaskan kenapa itu terjadi bisa tanpa sengaja melompati kenyataan bahwa sesuatu yang menyakitkan memang baru saja terjadi.

Reservasi Konsultasi Privat Anda

Jaga ketenangan pikiran Anda dan temukan kejernihan atas berbagai dilema kehidupan pribadi. Pesan sesi privat eksklusif bersama Madam Donna hari ini.

Mungkin akan ada pelajarannya.

Mungkin pintu lain akan terbuka.

Mungkin suatu hari kamu akan bersyukur semuanya berjalan seperti ini.

Tapi mungkin kamu tidak harus tahu itu hari ini.

Ada saat-saat ketika respons yang paling penuh kasih bukanlah mencari pesan tersembunyi dari semesta, tapi cukup mengakui: ini sakit.

Makna tidak selalu harus datang bersamaan dengan rasa sakit.

Kadang makna datang berbulan-bulan kemudian. Kadang bertahun-tahun kemudian. Kadang kita menciptakan makna lewat apa yang kita pilih untuk dilakukan selanjutnya. Dan kadang ada pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kita pahami sepenuhnya.

Kehidupan spiritual bisa memberi ruang bagi misteri, tanpa memaksa setiap pengalaman pahit masuk ke dalam penjelasan yang indah.

Spiritual Bypassing: Saat Spiritualitas Membantu Kita Menghindari Diri Sendiri

Ini membawa kita ke konsep yang dekat dengan toxic positivity spiritual: spiritual bypassing.

Secara umum, istilah ini merujuk pada kecenderungan memakai keyakinan atau praktik spiritual untuk menghindari pengalaman emosional atau psikologis yang sulit. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog John Welwood, yang mengamati bahwa praktik spiritual kadang dipakai untuk melompati masalah manusiawi yang belum selesai, bukan untuk benar-benar mengolahnya.

Yang sulit, spiritual bypassing dari luar bisa terlihat sangat mirip dengan pertumbuhan spiritual.

Seseorang bisa bermeditasi setiap hari tapi terus menghindari percakapan yang sulit. Seseorang bisa bicara soal memaafkan tanpa pernah mengizinkan dirinya mengakui betapa marahnya dia. Seseorang bisa menyebut orang lain “energi buruk” alih-alih melihat konflik di antara mereka.

Bahkan alat spiritual itu sendiri bisa jadi bagian dari penghindaran.

Kamu mungkin menarik kartu tarot berulang-ulang karena tidak tahan dengan rasa tidak tahu apa yang akan terjadi. Kamu mungkin terus mencari pertanda karena mengambil keputusan sendiri terasa menakutkan. Kamu mungkin berkali-kali membersihkan energi sambil menghindari batasan yang sebenarnya perlu ditegakkan.

Ini bukan berarti meditasi, tarot, olah energi, memaafkan, atau berserah pada dasarnya adalah bentuk penghindaran. Praktik yang sama bisa sangat membantu bagi satu orang dan menjadi pelarian bagi orang lain.

Pertanyaan pentingnya bukan sekadar praktik apa yang kamu lakukan?

Tapi untuk apa kamu memakainya?

Apakah kamu memakai spiritualitas untuk lebih hadir dalam pengalamanmu, atau untuk kabur darinya?

Sembuh Bukan Berarti Sempurna Secara Emosi

Salah satu akibat paling aneh dari budaya healing modern adalah proses sembuh itu sendiri bisa berubah jadi pertunjukan.

Kita mulai membayangkan bahwa “versi sembuh” dari diri kita tidak akan pernah iri, tidak pernah terpicu, tidak pernah salah memilih orang, tidak pernah kehilangan kendali emosi, dan selalu tahu persis kapan harus pergi.

Lalu ketika emosi lama muncul lagi, kita panik.

Kukira yang ini sudah sembuh.

Padahal proses sembuh jarang berupa garis lurus dari terluka menuju pulih.

Kamu bisa paham sebuah pola masa kecil secara nalar dan tetap merasakannya aktif lagi bertahun-tahun kemudian. Kamu bisa tahu sebuah hubungan tidak sehat dan tetap merindukan orangnya. Kamu bisa membangun harga diri dan tetap punya hari-hari ketika kamu membandingkan diri dengan semua orang di sekitarmu.

Bertumbuh tidak selalu menghapus riwayat emosi kita. Kadang bertumbuh hanya mengubah cara kita berhubungan dengannya.

Mungkin bedanya, kamu mengenali polanya lebih cepat. Mungkin kamu pulih lebih cepat. Mungkin kamu akhirnya berkata tidak di tempat yang dulu membuatmu mengkhianati diri sendiri. Mungkin kamu masih merasakan emosinya, tapi tidak lagi otomatis percaya pada semua yang dikatakannya.

Itu tetap pertumbuhan.

Kita tidak harus sempurna secara emosi untuk membuktikan bahwa kerja batin kita membuahkan hasil.

Spiritualitas Bisa Memeluk Terang dan Bayangan

Ada versi spiritualitas yang cantik saat difoto: lilin menyala di samping kartu tarot, kristal tertata di atas meja, asap dupa melayang di antara cahaya matahari, meditasi saat fajar, pakaian putih, kuil yang hening, jurnal penuh catatan syukur.

Tapi kerja batin yang sebenarnya sering jauh dari estetik.

Kadang pertumbuhan spiritual berarti mengakui bahwa kamu iri. Kadang berarti mengakui bahwa kamu masih marah pada seseorang yang kamu kira sudah kamu maafkan. Kadang berarti menyadari bahwa hubungan yang terus kamu sebut “soul connection” ternyata menyakitimu. Kadang berarti menerima bahwa tidak ada pertanda yang akan datang dan kamu harus memutuskan sendiri. Kadang berarti memasang batasan yang mengecewakan seseorang. Kadang berarti mengakui, Aku tidak tahu.

Tidak ada yang salah dengan mencari terang. Tapi mungkin kita tidak perlu menolak semua yang terasa gelap untuk bisa sampai ke sana.

Banyak emosi yang kita sebut negatif sebenarnya hanya bagian dari menjadi manusia. Emosi itu tidak harus jadi tempat tinggal selamanya, tapi juga tidak perlu buru-buru dibersihkan, dibingkai ulang, dimanifestasikan pergi, atau diubah jadi rasa syukur.

Kita bisa duduk bersamanya cukup lama untuk memahami apa yang dibawanya.

Mungkin Spiritualitas Bukan soal Selalu Positif

Mungkin tujuan spiritualitas bukan membuat kita positif. Mungkin ia bisa membantu kita menjadi lebih jujur.

Jujur soal apa yang sakit. Jujur soal apa yang kita mau. Jujur soal ketakutan kita. Jujur soal pola yang terus kita ulang. Jujur soal cara kita kadang menyakiti orang lain. Jujur soal bagian diri yang tidak pas dengan sosok yang ingin kita percayai sebagai diri kita.

Lalu, idealnya, cukup berwelas asih untuk tetap menemani diri sendiri saat menemukan semua itu.

Ada ruang untuk syukur dan duka dalam satu hidup yang sama. Ada ruang untuk iman dan ketidakpastian. Ada ruang untuk memaafkan dan menjaga batasan. Ada ruang untuk manifestasi dan menerima bahwa sebagian hal tetap di luar kendali kita. Ada ruang untuk terang dan bayangan.

Dan mungkin pertumbuhan spiritual yang sejati dimulai ketika kita berhenti menuntut diri mengubah setiap emosi sulit menjadi sesuatu yang indah, bahkan sebelum kita mengizinkan diri merasakannya.

Kadang proses sembuh dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana:

Ini yang kurasakan. Di sinilah aku sekarang. Dan untuk saat ini, aku bersedia jujur tentang itu.

Spiritualitas tidak harus menjauhkan kita dari kemanusiaan kita.

Mungkin tujuannya yang lebih dalam justru mendekatkan kita padanya.

BAGIKAN ARTIKEL

Bagikan panduan mindfulness ini kepada mereka yang membutuhkannya hari ini.

EKSPLORASI LEBIH LANJUT

Artikel Lainnya dari Jurnal Sanctuary

Lihat Semua Artikel →